Senin, 16 Maret 2020

Teledornya Aku

"Aku cinta kamu"

Ku kira itu salah satu pengertian yang bisa kau telaah, bahwa sebenarnya memang aku tak punya alasan lain untuk tetap melanjutkan isinya. Tapi, kenapa seakan akan pertanyaan lanjutan yang membuat ku berfikir apa itu salah satu artian yang kurang jelas sampai sampai aku harus terus membuktikannya, dan membuatmu percaya bahwasannya itu lebih cukup dari apa yang kau kira. 

Teledornya aku, yang harus kehilangan kepercayaan darimu untuk tetap bisa mencintai mu. Teledornya aku, yang tak bisa berkata kata lagi untuk meyakinkan mu, bahwasannya itu salah satu penjelasan yang cukup. Ah, teledornya aku. Yang masih terus saja dihantui rasa bersalah karena tak bisa menjawab lebih atas semua ucapan tadi. 

Hai wanita ku, yang namanya sering ku sebut dalam setiap obrolan kecil di langit langit bertabur bintang kecil indah disetiap jaraknya. Apa yang kamu mau? Sehingga ucapan cinta tak mampu membuat dirimu percaya bahwa itu benar adanya. 

Teledornya aku, yang ketika ditinggalkan mu baru sadar bahwa memang kata kata tak cukup untuk membuktikan yang ada. Maafkan aku, yang teledor itu. 

Minggu, 15 Maret 2020

Tergantikannya, diri Mu.

Maaf atas kata kata dulu yang sering membuat mu percaya akan hal itu. Tentu aku akan menulis lagi tentang dirimu disinih. Itu memang kerjaanku ketika sudah lepas dari dirimu. Suatu kemajuan bukan? Ya, tentu. Aku akan terus berjalan maju. Sampai bisa mengejar mu yang dulu berangkat lebih dulu soal mencari pengganti ku. 

Sebetulnya, Aku ingin seperti mu, yang mudah melupakan, mudah juga mendapatkan penggantiku. Aku ingin mencontoh mu, soal tak memperdulikan ku yang masih terus mengawasi mu. 

Tapi, kucoba untuk berfikir ulang tentang niat ku tadi. Bagaimana bisa aku selangkah dari mu kalau aku terus mencoba bersamping sampingan dengan mu? Bagaimana aku bisa lebih baik, kalau cara cara ku masih sama seperti apa yang kamu lakukan untuk ku? 

Yang lebih anehnya lagi. Kenapa aku masih saja terus merindukanmu? Padahal kau sudah bergandengan dengan lelaki pilihan yang dulu kau cari untuk menggantikan ku. Kenapa ku masih terbayang wajah berseri yang Tuhan hadiahkan untukmu. 

Kalau boleh ku minta. Aku ingin bertemu dengan mu sebentar, biar ku peluk dan ku cium wangimu. Lalu kita lari bersama, mengejar mimpi dan bertemu lagi dengan sosok pengganti yang semoga nanti bisa membawa kita berdua menjadi pribadi yang lebih baik, lagi. 

Ini Aku, sayang.

Ini Aku, sayang. 

Hello, untuk kamu yang sudah jauh berada diatas angan angan. Ingin sekali ku ajak kau bercanda bersama. Mengingat ingat apa yang dulu pernah kita bahas, bersama. 

Sayang, ini aku. Orang yang dulu kamu peluk dan perlahan kau kecup. Sayang, ini aku. Orang yang dulu kau ajak diskusi untuk mendapatkan hasil dari dua sisi. Sayang, ini aku. Orang yang dulu kau ajak ke taman untuk sekedar duduk dan bergandengan tangan. Sayang, ini aku. Orang yang dulu kamu ajak kerumah supaya mendapatkan alasan untuk mendapatkan waktu tambahan. 

Ini Aku, sayang. Orang yang akan terus mengenang mu dikala waktu yang terselip di jam - jam tak menentu. Ini Aku, sayang. Orang yang dulu sering mengajak mu mengahabiskan bensin menikmati suara klakson para pengemudi. Ini Aku, sayang. Orang yang dulu kau cintai tapi akhir akhir ini selalu menjadi alasan untuk terus kau benci. 

Sayang ku. Di Bandung yang sekarang ku tempati ini, ada banyak cerita yang harus ku bagi. Tapi, ku mengingat akan satu hal yang sudah pasti. Bahwa kau sudah tak ku punyai lagi. 

Sayang ku. Aku suka semua hal tentang dirimu yang membuatku susah untuk lupa akan dirimu. Ada banyak hal yang membuatku untuk terus mengingat mu. Jujur, ku belum bisa melupakan mu. Ada alasan yang terus menuntutku untuk masih ingin dipelukan mu. Adakah kesempatan bagi ku untuk bertemu dengan mu? Bolehkah kembali ku meminta waktu kosong mu? Sebentar saja. Aku mohon dengan segenap rasa rindu. Akhir akhir ini sudah banyak air mata yang masih bercucuran dengan alasan ingin bertemu denganmu. Alasan itu masih terus berputar di kepala ku. Anehnya, mungkin dirimu tak punya pemikiran seperti diriku, yang masih terus mencintamu.